Showing posts with label Tazkirah. Show all posts
Showing posts with label Tazkirah. Show all posts

21 March 2010

Berpesan-pesanlah.....




"
Dan berilah peringatan kerana sesungguhnya peringatan itu bermanfaat untuk orang-orang mukmin" (Azzariyat:55)

20 March 2010

PELIHARALAH SIFAT MALU

MALU
Dalam Islam, rasa malu termasuk dalam katagori akhlaq mahmudah (akhlaq terpuji). Karena itulah Nabi mengatakan, malu adalah sebahagian dari iman. Rasulullah S.A.W mengatakan, “Seseorang tidak akan mencuri bila ia beriman, tidak akan berzina bila ia beriman.” Bahkan Rasulullah juga menjelaskan qalilul haya’ (sedikit dan kurangnya malu), menyebabkan nilai ibadah menjadi hilang dan hapus.

Malu itu terbahagi kepada tiga bahagian.
1. malu terhadap diri sendiri.
Merasa malu bila tidak menjalankan perintah dan tidak menjauhi larangan Allah swt.
2. malu terhadap masyarakat.
Merasa malu bila melakukan kemaksiatan atau kemungkaran.
3. malu kepada Allah.
Di manapun kita berada, kita malu tidak menaati-Nya. Sebab di manapun semua kita yakin Allah pasti melihat dan mengawasi hamba-Nya.
Malu ini sebenarnya termasuk akhlak yang paling baik mulia, paling agung dan lebih banyak manfaatnya. Sifat ini merupakan sifat khsusus bagi kemanusiaan, lebih banyak manfaatnya, maka orang yang tidak memiliki rasa malu bererti tidak ada bagi dirinya sifat kemanusiaan kecuali dagingnya, darahnya dan bentuk fizikalnya.

Jika tiada sifat malu, maka:
1. dia tidak memiliki kebaikan apapun
2. tetamu tidak akan dihormati
3. janji tidak ditepati
4. amanah tidak ditunaikan dan kebutuhan seseorang tidak akan pernah terpenuhi,
5. seseorang tidak akan berusaha mencari sifat-sifat yang baik untuk dikerjakan dan sifat-sifat yang buruk untuk dijauhi
6. aurat tidak akan ditutup
7. seseorang tidak akan tercegah dari perbuatan maksiat
8. bahkan ia boleh disamakan seperti haiwan atau pun manusia yang hilang akal…sudah tidak punya rasa malu…

Tip Menjaga Sifat Malu

Dari Abu Mas'ud Uqbah bin Amr Al Anshary Al Badry r.a dia berkata, Rasulullah SAW bersabda; Jika engkau tidak malu perbuatlah apa yang engkau suka.” [HR Bukhori]

Hadits di atas mengisyaratkan bila rasa malu telah hilang dalam hati seseorang, maka itu tandanya dia telah terjerumus menjadi manusia yang hilang akalnya, sehingga berbuat sesuka hatinya tanpa mengindahkan lagi aturan Allah SWT maupun kehormatan dirinya.

Berikut ialah cara agar sifat malu masih tertanam dalam diri kita.
1. Berdoa tiap saat agar Allah terus memberi hidayah dan taufiq nya. Serta berharap agar terus-menerus dalam pengawasan dan lindungan Allah

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rasulullah bersabda: ''Sesungguhnya Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung, bila berkehendak menjatuhkan seseorang maka Allah cabut dari orang itu rasa malunya. Ia hanya akan menerima kesusahan (dari orang banyak yang marah kepadanya). Melalui ungkapan kemarahan itu, hilang pulalah kepercayaan orang kepadanya.”

Mudah-mudahan diri dan keluarga kita terhindar dari tercerabutnya rahmat Allah, sehingga Allah tidak mencabut rasa malu yang kita miliki.

2. Munculkanlah setiap saat perasaan malu jika ingin melakukan hal-hal yang dilarang Allah

Rasa malu pada sesama manusia akan mencegah seseorang dari melakukan perbuatan yang buruk dan akhlak yang hina. Sedangkan rasa malu kepada Allah akan mendorong untuk menjauhi semua larangan Allah dalam setiap keadaan, baik ketika bersama banyak orang ataupun saat sendiri tanpa siapa-siapa menyertai.

Hendaklah tertanam setiap saat perasaan malu kepada Allah Ta’ala, dan kalau pun sudah tidak malu kepada Allah Ta’ala, setidaknya malulah kepada malaikat yang tiap saat mencatat amal pebuatan kita. Jika tidak malu kepada malaikat, malulah kepada manusia, kepada guru, jiran tetangga atau teman-teman kita. Jika tidak malu kepada manusia, malulah kepada keluarga di rumah, kalau pun tidak malu kepada keluarga, maka malulah kepada diri sendiri dan hendaklah jujur bahawa apa yang dilakukannya adalah kesalahan. Namun malu yang benar, ialah hanya kepada Allah, bukan pada yang lain.

3. Pupuklah iman dalam hati dan diri kita.

Sebab antara iman dan rasa malu itu saling bergandingan

Nabi bersabda, الحياء و الإيمان قرنا جميعا فإذا رفع أحدهما رفع الآخر

“Rasa malu dan iman itu terikat menjadi satu. Jika yang satu hilang maka yang lain juga akan hilang.” [HR. Hakim]

4. Ingatlah kematian jika akan melakukan maksiat

Nabi menjelaskan bahwa tanda memiliki rasa malu kepada Allah adalah menjaga anggota badan agar tidak digunakan untuk bermaksiat kepada Allah. Mengingat kematian, adalah cara tepat mencegah perbuatan maksiat.

"Hendaklah kalian malu kepada Allah Azza wajalla dengan sebenar-benarnya malu. Barangsiapa malu kepada Allah Azza wajalla dengan sebenar-benarnya malu, maka hendaklah ia menjaga kepala dan apa yang ada padanya, hendaklah ia menjaga perut dan apa yang dikandungnya, dan hendaklah ia selalu ingat kematian dan busuknya jasad. Barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Dan barangsiapa yang mengerjakan yang demikian, maka sesungguhnya ia telah malu kepada Allah Azzawajalla dengan sebenar-benarnya malu." [HR. at-Tirmidzi, Ahmad, al-Hakim].

Semoga, kita termasuk diantara segelintir manusia yang masih memilih rasa malu.



[ berbagai sumber / www.hidayatullah.com]


teks ini merupakan teks untuk slot tazkirah sempena perhimpunan rasmi mingguan di smkpb.


Anda juga mungkin meminati:
1.Tazkirah

14 March 2010

Erti Kebahagiaan...


Kita patut bertanya kepada diri kita sendiri , adakah kita ini di antara orang yang bahagia? Mungkin ada di antara kita pada ketika  ini memiliki harta yang melimpah ruah, tetapi tidak merasa bahagia. Ada pula yang memiliki kemasyhuran   dan kedudukan yang tinggi, namun tidak pernah merasa bahagia. Ada juga di antara kita yang amat terhormat  di mata masyarakat dan menjadi tokoh terkemuka, tetapi itu pun tidak membuatnya bahagia. Ada juga yang cuba melancung ke luar negeri mengunjungi tempat-tempat yang indah tetapi nyata kebahagiaan itu tidak juga menggamitnya

Kalau begitu , ternyata ukuran bahagia itu tidak terletak pada banyaknya harta, bukannya pada jawatan dan kedudukan, bukan juga pada ketokohan seseorang dan juga bukan dengan peluang melancung ke merata tempat. Lalu,
  di manakah kebahagiaan itu, dan bagaimana pula kita dapat mengecapinya ?

Sebenarnya, kebahagiaan adalah bila seseorang mampu melakukan sesuatu yang bermakna dan murni. Ia merupakan kekuatan batin yang memancarkan ketenangan dan kedamaian, merupakan kurniaan
  Allah s.w.t  yang membuat jiwa lapang dan bergembira.

Bahagia adalah kejernihan hati, kebersihan amal perbuatan dan keelokan ruhani. Hal itu merupakan kurniaan Allah s.w.t. yang diberikan kepada siapa saja yang melakukan perbuatan terpuji.

Bahagia adalah rasa redha yang mendalam dan sikap qana'ah. Ia bukan barang dagangan yang mampu dibeli di pasar walau sekaya mana pun kita, tetapi merupakan kurniaan Allah s.w.t yang dianugerahkan
  kepada jiwa-jiwa yang terpilih.

Kebahagiaan itu adalah kelapangan jiwa; bahagia itu tatkala anda mampu
  membuat orang lain senang hati, menguntumkan  senyum di wajah, dan anda merasa gembira  bila  dapat berbuat baik kepada sesama manusia dan  merasa nikmat ketika anda mampu bersikap baik kepada mereka.

Kebahagiaan adalah membuang jauh segala fikiran dan pandangan
  negatif dan mengisinya dengan fikiran dan pandangan yang positif. Ia merupakan sebuah kekuatan yang mampu menghadapi berbagai tekanan dan mampu  memecah kebuntuan tanpa diperkuda emosi.

Kebahagian itu ada pada ilmu yang bermanfaat dan amal yang soleh, ada dalam meninggalkan kebencian, kedengkian dan sikap tamak terhadap apa yang dimiliki orang lain.

Bahagia itu terdapat dalam zikir dan ingat
  kepada Allah s.w.t., syukur kepada-Nya dan memperelokkan ibadah kepada-Nya. Dan kebahagiaan hakiki adalah mendapat syurga dan terselamat dari api neraka.

Catatan-catatan
  ringkas  tentang  kebahagiaan

Orang yang berbahagia adalah orang yang mengambil pelajaran dari orang lain dan orang yang celaka adalah orang yang dijadikan pelajaran oleh orang lain.

Bahagia adalah jika anda senang untuk berbuat kebaikan, bukan dengan berbuat apa saja yang anda senang.

Orang bahagia adalah orang yang mengambil pelajaran dari masa lalu dan berhati-hati terhadap dirinya. Orang celaka adalah orang yang mengumpulkan harta untuk orang lain dan bakhil untuk memberikan kebaikan walaupun kepada dirinya sendiri.

Orang bahagia ialah  yang  mendapat pengajaran  dari pengalaman lalu, bersemangat pada hari ini dan optimis  tentang  masa depan.

Kebahagiaan itu diperolehi  dengan menjaga lisan.

Seseorang tidak akan mencapai  kebahagiaan kecuali jika dia hidup merdeka, terbebas dari kongkongan syahwatnya serta mampu menahan hawa nafsunya.

Kesungguhan anda dalam mencintai ketaatan, hati yang selalu anda hadapkan ke hadirat Allah s.w.t , dan hadirnya hati ketika sedang beribadah  adalah tanda kebahagiaan.

Kebahagiaan itu tidak boleh dibeli dengan harta walaupun  ia sering dijual.


Petunjuk
 Kebahagiaan

Kebahagiaan memiliki tanda-tanda, sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Beliau menyebutkan tiga perkara iaitu:

1. Jika mendapat nikmat, dia bersyukur.
2. Jika mendapat ujian, dia bersabar.
3. Jika berbuat dosa, dia beristighfar.

 
 Untuk Mendapat Bahagia

Untuk  mencapai  kebahagiaan dan kejayaan adalah sebagai berikut, perhatikan perkara berikut:

1. Beriman Kepada Allah
  s.w.t.

Tidak ada kebahagiaan tanpa iman kepada Allah s.w.t. Kebahagiaan itu akan bertambah seiring dengan bertambahnya iman seseorang kepada Allah
  s.w.t., dan akan  berkurang bersama dengan lemahnya iman kepada-Nya. Apabila iman semakin  teguh maka makin memuncak pula kebahagiaannya. Sebaliknya jika iman menjadi lemah, maka jiwanya  menjadi goncang dan fikirannya  menjadi semakin negatif. Dia  akan  berasa    kehidupan ini amat pahit dan  dia akhirnya  ditimpa kebinasaan dalam hidupnya.

2. Beriman kepada Kekuasaan Allah s.w.t.

Orang yang beriman bahwa Allah s.w.t. adalah yang
  Maha Kuasa, tanpa had, maka dia tidak akan dirundung duka. Dia  tidak akan disapa  kesedihan  kerana dia mempunyai tempat bersandar yang kuat  ketika ditimpa ujian dan kesulitan.

3. Beriman dengan Ketetapan Allah  s.w.t

Iman dengan qadha' dan qadar akan menumbuhkan sikap redha dalam hati, kelapangan jiwa dan ketenangan. Oleh kerana itu Nabi s.a.w bersabda,
"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik. Jika diberi nikmat maka dia bersyukur dan itu adalah baik baginya. Dan jika ditimpa kesempitan, maka dia bersabar dan itu pun baik baginya.” (HR Muslim)

4. Mencontohi Orang yang
  Berjaya

Yang dimaksudkan di sini adalah orang yang telah menaburkan jasa yang besar dan luar biasa kepada
  umat manusia dan dia adalah orang yang beriman kepada Allah s.w.t . Yang pertama dan utama adalah ikutan kita Rasulullah Muhammad s.a.w  Dengan mengikuti jalannya, maka seseorang akan bahagia dan dengan meninggalkan petunjuk dan sunnahnya, maka seseorang akan celaka.

5. Mengenali Hakikat Kehidupan


Hidup pasti akan berhadapan dengan
  masalah dan kesusahan dan pasti ada rintangan dan ujian. Semua ini merupakan ketetapan dari Allah  s.w.t. terhadap manusia, supaya diketahui siapakah yang lebih baik amalnya. Maka wajib bagi kita untuk mengenal hakikat hidup ini dan menerima sebagaimana sepatutnya dan tidak melarikan   diri untuk menghadapi ketentuan Allah dengan ketentuan lainnya, menghadapi yang tidak kita senangi dengan sesuatu yang dapat menghilangkannya. Mengetahui permasalahan ini bukan bererti menyerah kalah dan putus asa, malah  bersikap sebaliknya.

6. Mengubah Kebiasaan Negatif Kepada Positif

Doktor Ahmad Al-Bara' Al-Amiri mengatakan bahawa memulai kebiasaan baru yang bersifat aqliyah (mampu digarap dan dipikirkan) itu tidaklah
  sukar , diperlukan hanya  sekitar 21 hari. Dalam hari-hari tersebut kita berfikir, bermuzakarah, lalu berusaha untuk mewujudkan  kebiasaan baru itu, dan yang paling akhir kita bayangkan dengan jelas dan sempurna bahwa diri kita telah menjadi seperti apa yang kita inginkan.

Jika kita berfikir bahwa kita telah menjadi orang baru sebagaimana yang kita kehendaki, maka gambaran ini secara perlahan-lahan dan berperingkat akan menjadi suatu realiti. Hal ini seperti diungkapkan bahwa "al hilm bittahallum wal ilm bitta'allum" sikap lembut dicapai dengan selalu berusaha lembut dan ilmu itu diraih dengan belajar. (Durus nafsiyah linnajah wattafawwuq)

7. Tujuan Yang Mulia

Ramai
 orang yang gagal kerana dia tidak mempunyai objektif dan tujuan tertentu untuk dicapai.  Ataupun mungkin  dia mempunyai satu  tujuan tetapi tujuannya bukan sesuatu yang mulia dan tinggi menyebabkan  ia tidak merasa bahagia tatkala berusaha mendapatkannya. Sedangkan tujuan yang mulia  akan menjadikan seseorang merasa bahagia ketika sedang berusaha untuk mencapainya.

8. Ringankan Derita

Orang hidup pasti mengalami musibah dan derita, namun tidak sepatutnya musibah itu dianggap sebagai titik noktah kepada segalanya, dan jangan beranggapan bahwa hanya dirinya seorang yang mendapat
  ujian hidup. Bahkan sepatutntya dia merasa ringan dengan musibah dan tidak terlalu membesar-besarkannya.

9. Jangan Membuatkan Kita Resah
  Disebabkan Perkara-Perkara Kecil.

Ada sebahagian manusia merasa resah dan kalut dengan kejadian-kejadian biasa dan lumrah dalam kehidupan seharian. Di antara mereka ada yang begitu sedih dengan pecahnya piring atau gelas, saluran air atau kabel yang terputus, baju yang koyak dan lain-lain yang sebenarnya perkara biasa sahaja.

 
10. Kebahagiaan Ada Pada Diri Anda

Jika bahagia itu ada pada diri kita, maka mengapa mesti mencarinya di tempat yang jauh. Setiap manusia mempunyai kekuatan dan potensi untuk bahagia, tetapi kebanyakan mereka tidak mahu melihatnya. Sebabnya adalah kerana dia tidak pernah memperhatikan diri sendiri, tetapi sibuk melihat orang lain.

Kebahagiaan itu kadang-kadang
  ada di depan mata, tetapi kita tidak mengetahuinya, sehingga terpaksa  mencarinya dari tempat yang jauh dan semakin jauh. (Khalif Muttaqin)

Diadaptasi dari terjemahan
 dari buku: ‘Daliluka Ila As-Sa’adah An-Nafsiyah’, Dept. Ilmiyah Darul Wathan .


Mencari cinta dan redha Rabbul Izzati.....